//
kamu sedang membaca
Berita, Cilegon

Penderita HIV/AIDS di Pulomerak Bertambah

Pada November ini penderita hu­man immunodeficiency virus/acquired im­munodeficiency syndrome (HIV/AIDS) di Kecamatan Pu­lomerak bertambah tiga orang. Jika pada bulan se­belumnya penderita HIV/AIDS 49 orang, maka pada November ini menjadi 52 orang. “Penambahan itu diketahui setelah kami gencar melakukan pemeriksaan terhadap warga,” kata Koordinator Pro­gram Inveksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS Puskesmas Pulomerak Sugeng Riyanto, Selasa (29/11).
Menurutnya, dari 53 warga yang terjangkit HIV/AIDS tersebut, empat orang di antaranya meninggal du­nia. Dari empat yang meninggal tersebut, dua me­ninggal tahun ini. “Semua penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia dikarenakan terjangkit pe­nyakit penyerta seperti TB Paru,” ungkap Sugeng.
Koordinator Klinik Voluntary Counseling and Tes­ting Puskesmas Pulomerak dr M Arif Gunawan me­ngatakan, penularan HIV/AIDS di Pulomerak ke­banyakan karena hubungan seks bebas. Sementara pe­nularan dengan jarum suntik narkotika baru dite­mukan dua kasus. “Kami sudah punya klinik VCT sejak 2009,  klinik inilah yang menjadi rujukan para penderita HIV/AIDS untuk konsultasi dan pengobatan,” katanya.
Untuk mengantisipasi maraknya penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks, tambah Gunawan, Pus­kesmas Pulomerak membuka outlet kondom gra­tis di enam hotel melati di Pulomerak dan di Ter­minal Terpadu Merak (TTM) serta di dekat pelabuhan. “Harapan kami semua pihak menyadari bahwa HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es yang baru terlihat ujungnya saja. Oleh karena itu, bagi warga yang merasa sudah ada gejala segeralah periksa ke Pus­kesmas, kami jamin kera­hasiannya,” ujarnya.
Kepala Puskesmas Pulomerak drg Sefi Saeful Holiq menam­bah­kan, hingga kini pihaknya masih menemukan banyak kendala dalam upaya mengurangi penderita HIV/AIDS. Kendala itu di antaranya adalah masih adanya pandangan masyarakat bahwa yang terjangkit penyakit itu adalah orang yang suka ber­maksiat. “Padahal sekarang banyak di antara penderita yang tidak tahu menahu karena dia tertular dari suami atau isteri yang suka berhubungan seks di luar,” ujarnya.
Menurutnya, di Puskesmas Pulomerak memang sudah ada klinik VCT dan klinik IMS sejak 2009 lalu, namun identifikasi penyakitnya masih dilakukan berdasarkan gejala yang dialami pasien. Ia berharap pada tahun mendatang Pemkot Cilegon se­gera menyediakan labora­torium untuk memeriksa bak­teri dan virus. “Kalau di­dukung de­ngan laboratorium yang bagus, ha­sil pemeriksaan akan lebih aku­rat,” ujarnya. (ibm/del/zen)(radarbanten)

About infocilegon

All about Cilegon

Discussion

No comments yet.

Tinggalkan komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2011
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Facebook Fans Page

%d bloggers like this: